Cerpen : Secerah Senyumu Untukku



Langit Kota Jember sore itu berwarna jingga pekat, seolah menumpahkan seluruh beban hari yang panjang. Di tengah hiruk pikuk Stasiun Kereta Rambipuji yang tak pernah tidur, berdiri seorang pemuda bernama Dias. Ia adalah seorang kurir paruh waktu yang hidupnya terasa abu-abu, sekelabu seragam jaket dan helmnya. Sejak kepergian ayahnya dua tahun lalu, Dias memikul tanggung jawab besar untuk ibunya, dan senyum sejati telah lama terasa asing di wajahnya.

Sore itu, Dias sedang menunggu paket terakhir yang harus diantarnya. Pikirannya melayang pada tagihan listrik yang menumpuk dan obat ibunya yang semakin menipis. Beban hidup telah mengubahnya menjadi pribadi yang pendiam dan tertutup, selalu tergesa-gesa seolah dikejar waktu yang tak pernah ia kejar.

Tiba-tiba, sebuah suara renyah menginterupsi lamunannya.

"Permisi, apakah ini paket atas nama Nona Andini?"

Dias mendongak. Di hadapannya, berdiri seorang gadis. Ia mengenakan blus putih sederhana dengan rok selutut bermotif bunga kecil. Rambutnya diikat longgar, dan di tangannya tergenggam sebuah buku tebal. Namun, yang paling menarik perhatian Dias adalah matanya yang jernih dan, ya, senyumnya. Senyum yang begitu tulus dan hangat, seolah membawa sepotong mentari ke dalam hati Dias yang dingin.

"Ya, benar," jawab Dias singkat, berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Ia menyerahkan paket dan tablet untuk ditandatangani.

Gadis itu, Andini, menerima paket itu dengan hati-hati. Saat ia sedang mencari pena di tasnya, ia mengangkat kepala dan tatapan mereka bertemu.

"Terima kasih banyak, Mas. Cuaca sedang panas sekali, ya? Mas terlihat lelah," ujar Andini dengan nada khawatir yang jujur.

Dias hanya berdeham pelan. "Sudah tugas saya, Mbak. Silakan tanda tangan di sini."

Andini tersenyum lagi. Bukan senyum yang dibuat-buat, melainkan senyum yang mencapai kedua matanya, memancarkan binar ceria.

"Sudah selesai. Semoga Mas selamat sampai tujuan berikutnya. Hati-hati di jalan, ya," katanya lembut.

Kata-kata itu, "Hati-hati di jalan, ya," terdengar berbeda. Itu bukan sekadar basa-basi, melainkan sebuah perhatian yang murni. Dias, yang terbiasa mendengar klakson keras dan makian di jalan, merasa sesuatu yang asing berdesir dalam dadanya. Ia hanya mengangguk kaku, mengambil tabletnya, dan bergegas pergi, meninggalkan Andini yang masih berdiri di tepi stasiun.

Sejak pertemuan singkat itu, entah bagaimana, hidup Dias mulai bersinggungan dengan Andini. Dalam seminggu, ia menerima tiga kali order pengiriman ke alamat yang sama apartemen kecil yang dihuni Andini di lantai tiga sebuah gedung tua.

Setiap kali mereka bertemu, Andini selalu menyambutnya dengan senyum yang sama hangatnya. Ia tak pernah membuat Dias menunggu. Kadang, ia memberinya sebotol air dingin. Pernah suatu kali, saat Kota Jember dilanda hujan deras, Andini menawarinya secangkir teh hangat dan biskuit sembari menunggu hujan reda.

"Saya tahu profesi Mas itu berat," kata Andini suatu sore, sambil menyeruput teh... "Saya sering melihat Mas selalu terburu-buru. Tapi ingat, Mas, sekeras apa pun kita bekerja, jangan sampai lupa untuk bernapas dan menikmati jeda sebentar."

"Mbak ini bicara seperti seorang motivator," balas Dias, mencoba bercanda, namun suaranya terdengar canggung.

Andini tertawa kecil. "Saya seorang penulis, Mas. Seringkali, saya harus mencari inspirasi dari hal-hal sederhana. Dan senyum... senyum itu adalah inspirasi terbaik. Ia bisa mengubah hari seseorang, bahkan hari Mas Dias."

Ia menyebut namanya! Dias terpaku. Ia tak menyangka Andini tahu namanya, padahal ia selalu memasang wajah datar saat menyerahkan paket.

"Saya melihat nama Mas di aplikasi," jelas Andini, seolah membaca pikiran Dias, kemudian ia tersenyum, "Nama yang bagus."

Perlahan tapi pasti, percakapan mereka berkembang. Dias yang kaku mulai menemukan dirinya bercerita tentang ibunya, tentang kuliahnya yang terhenti, dan tentang mimpinya memiliki bengkel kecil. Andini mendengarkan dengan penuh perhatian, tanpa menghakimi, hanya menawarkan pandangan optimis dan kata-kata penyemangat yang jujur.

"Mimpi Mas tidak hilang, hanya sedang menunggu waktunya," kata Andini suatu malam, saat Andini mengantar buku-buku baru. "Mas sudah melakukan hal yang luar biasa untuk ibu Mas. Itu adalah kekuatan sejati. Jika Mas bisa sekuat ini, Mas pasti bisa meraih mimpi itu lagi."

Senyum Andini bukan hanya manis di mata, tetapi juga penyembuh bagi hati Dias. Senyum itu seolah memberinya izin untuk merasa bahwa ia, dengan segala bebannya, masih berhak untuk bahagia dan bermimpi.

Suatu hari, Dias datang ke alamat Andini bukan untuk mengantar paket, melainkan untuk bertemu. Ia telah memutuskan, ia harus mengatakan sesuatu.

Ia menemukan Andini sedang duduk di teras apartemennya yang kecil, jarinya lincah menari di atas keyboard laptop. Ia mendongak, dan seperti biasa, senyumnya menyambut.

"Mas Dias? Ada apa? Tidak ada paket yang saya pesan hari ini, lho," godanya.

Dias menarik napas panjang. Ia meraih jaket kurirnya dan melepaskannya perlahan. Untuk pertama kalinya, Andini melihat Reno tanpa seragamnya; ia terlihat lebih muda, matanya memancarkan ketulusan yang selama ini tersembunyi.

"Mbak Andini," kata Dias, suaranya sedikit bergetar. "Saya datang karena... saya tidak ingin bertemu Mbak hanya saat mengantar paket lagi."

Andini menatapnya, senyumnya sedikit meredup menjadi ekspresi penuh tanya.

"Hidup saya dulunya seperti lorong stasiun yang gelap, Mbak. Penuh tergesa-gesa dan tak ada cahaya. Saya lupa caranya tersenyum, lupa caranya berharap. Tapi sejak pertemuan pertama itu, setiap kali saya melihat Mbak, dan... setiap kali Senyummu Hadir Untukku," Dias berhenti, mengambil napas, "lorong itu terasa sedikit terang. Mbak memberikan saya jeda yang saya butuhkan, dan harapan untuk melanjutkan perjalanan."

Dias mengeluarkan sesuatu dari saku celananya sebuah gantungan kunci berbentuk helm mini, pemberian adiknya dulu.

"Saya tahu ini mungkin aneh, tapi... Maukah Mbak Andini mengizinkan saya... menjadi alasan baru untuk tersenyum, bukan hanya sebagai kurir, tapi sebagai... teman? Mungkin lebih dari itu?"

Keheningan melingkupi mereka. Tiba-tiba, Andini tertawa, tawa yang lepas dan tulus. Air mata tipis menggenang di sudut matanya, bukan air mata sedih, melainkan air mata kebahagiaan.

"Mas Dias..." Andini berdiri, berjalan mendekat, dan menatap Dias tepat di mata. "Saya senang Mas akhirnya mau melepas 'helm' itu. Saya juga sudah lama berharap, agar Mas Dias bisa tersenyum untuk saya, tanpa harus memikirkan paket dan waktu."

Andini kemudian mengangkat tangannya, menyentuh pipi Dias dengan lembut. Di wajah Dias yang biasanya kaku dan penuh beban, perlahan, sebuah lengkungan muncul.

Itu adalah senyum. Bukan senyum profesional, bukan senyum terpaksa, melainkan senyum sejati yang datang dari kedalaman hatinya. Senyum yang selama ini ia kunci rapat-rapat.

"Tentu saja, Mas Dias," bisik Andini, senyumnya kini semakin lebar, seolah memantulkan cahaya dari senyum Dias yang baru ditemukan. "Tentu saya mau."

Di bawah langit Kota Jember yang mulai berganti gelap, Dias menyadari bahwa kebahagiaan dan mimpi tidak selalu diantar dalam paket mahal, melainkan bisa datang dalam bentuk yang paling sederhana dan tulus senyum seseorang yang peduli. Dan senyum Andini telah menjadi kompas yang menuntunnya kembali pada dirinya yang hilang.




~ THE ~ END ~

Posting Komentar

0 Komentar