Kisah Misteri Kapal Kargo Kencana Arum



Tanggal 12 November tahun 2005, kapal kargo Kencana Arum memulai perjalanannya dari Tanjung Priok menuju Banjarmasin.

Muatannya adalah karet dan bahan pangan. Cuaca cerah, laut pun tenang. Namun, Kapten Arman Wijaya, seorang nakhoda berpengalaman 28 tahun, merasakan kecemasan yang aneh.

Mereka baru saja memasuki perairan dekat wilayah yang dikenal oleh para pelaut senior sebagai segitiga karang penantian.

Sebuah zona yang terkenal bukan karena hilangnya kapal, melainkan karena laut di sana enggan melepaskan jiwa-jiwa yang telah direnggutnya.

Malam pertama di area itu, gangguan mulai terjadi. Radio komunikasi mengeluarkan suara desis keras.

Diikuti bisikan serak dalam dialek yang tidak dapat dikenali. Kadang-kadang diselingi oleh suara rintihan. Kompas mulai bergerak tak menentu, meskipun perangkat navigasi elektronik masih berfungsi normal.

Beberapa anak buah kapal bahkan melaporkan melihat sosok gelap dan tinggi di kejauhan. Sosok itu tampak berdiri di atas puncak ombak. seolah mengawasi pergerakan kapal mereka.

Keesokan harinya, kabut pekat tiba-tiba menyelubungi kapal. Padahal langit di kejauhan terlihat cerah. Suhu udara mendadak turun, menjadi dingin, menusuk tulang.

Bau amis yang menyengat, campuran antara rumput laut busuk dan lumpur, memenuhi seluruh geladak.

Pada saat itulah, Rian, asisten juru masak, menghilang tanpa jejak. Ia terakhir kali terlihat di dapur saat menyiapkan bahan untuk makan siang.

Pencarian intensif segera dilakukan, namun tidak membuahkan hasil sama sekali. Mereka hanya menemukan jejak kaki basah yang mengarah dari dapur menuju sisi buritan kapal.

Seolah-olah Rian berjalan sendiri lalu lenyap di tepian. Kegelisahan pun menyebar di antara kru. Malam kedua, teror terasa semakin nyata.

Bunyi ketukan keras terdengar dari bawah lambung kapal... "Duk, duk, duk"... Seolah-olah ada sesuatu yang mencoba memanjat dari dalam laut. Beberapa ABK yang memberanikan diri untuk melihat ke sisi kapal.

Bersumpah mereka melihat wajah-wajah pucat dengan mata tanpa cahaya. Wajah-wajah itu menatap kosong dari balik air dengan jari-jari panjang dan kurus mencengkeram lambung kapal. Kapten Arman segera memerintahkan untuk meningkatkan kecepatan.

Selain itu Kapten Arman mengirimkan sinyal bahaya. Namun, semua saluran komunikasi terputus total. Mesin kapal mati mendadak. Kencana Arum menjadi sekumpulan besi tak berdaya yang terombang-ambing dalam kesunyian kabut.

Kapal terkungrung dalam wilayah yang seakan bukan lagi bagian dari dunia ini. Puncak teror terjadi di tengah malam yang gelap gulita.

Listrik padam total. Dalam kegelapan pekat, mereka mendengar bunyi tetesan air di lorong kapal. Lalu suara tarikan nafas berat dan gesekan seperti ada sesuatu yang diseret. Tiba-tiba, sebuah figur muncul di ujung lorong. Tubuhnya basah kuyub dan menggigil.

Kulitnya berwarna keabuan-abuan seperti telah lama terendam di laut. Ia mengenakan pakaian pelayaran kuno yang sudah compang-camping. Itu adalah penampakan seorang pelaut dari masa lalu.

Figur itu menunjuk ke arah laut lepas sambil mengangguk pelan, lalu lenyap seketika. Meninggalkan bau garam dan dekomposisi yang menusuk hidung. Kapten Arman teringat pada cerita turun-temurun.

Para penjaga samudera, roh-roh yang meninggal di perairan tertentu, tidak selamanya berniat jahat. Mereka seringkali adalah penjaga yang sekaligus terjebak. Mungkin mereka hanya ingin dikenang, atau mungkin sedang memberikan sebuah peringatan.

Dengan sisa-sisa keberanian, Kapten Arman memimpin sebuah ritual sederhana di atas geladak. Mereka melantunkan doa bersama, menyebarkan kelopak bunga sebagai simbol penghormatan dan menyalakan kemenyan.

Mereka berikrar, jika selamat, akan mendoakan semua arwah yang tersesat di samudera itu. Ritual itu dilakukan dengan ketulusan hati dan penuh kepasrahan. Secara misterius, tidak lama setelah ritual selesai, kabut mulai berangsur menghilang. Mesin kapal, meskipun dengan sedikit usaha, dapat dihidupkan kembali.

Sinyal darurat akhirnya berhasil terpancar. Tiga jam kemudian, sebuah kapal penjaga pantai datang memberikan bantuan. Kencana Arum akhirnya berlabuh dengan selamat di pelabuhan Trisakti. Banjarmasin minus satu awak, Rian.

Para ABK yang lain selamat. Tidak ada yang dapat memberikan penjelasan rasional Mereka hanya sepakat bahwa mereka sempat memasuki sebuah dunia lain Entah karena doa, rasa hormat, atau belas kasihan dari para penunggu Mereka diizinkan untuk melanjutkan perjalanan.

Kisah ini menjadi cerita yang melegenda di kalangan pelayaran lokal Banyak yang meyakini bahwa di titik-titik tertentu di samudera Terdapat sebuah ambang batas Bukan gerbang menuju neraka.

Melainkan sebuah ruang penantian. Di sana, jiwa-jiwa yang belum tenang menjaga perairannya. Kadang dalam kemarahan, kadang sebagai ujian, dan kadang hanya ingin suaranya didengar.

Mereka adalah para penjaga samudera. Kapten Arman pensiun tidak lama setelah peristiwa itu. Ia sering berkata, Kami dievakuasi bukan karena kami perkasa, tetapi karena kami diingatkan.

Lautan menyimpan banyak misteri, dan sebagian dari misteri itu adalah jiwa-jiwa yang masih ingin kisahnya terdengar. Hingga hari ini, di perairan dekat segitiga karang penantian, konon masih sering terdengar suara di frekuensi radio yang memanggil nama-nama peloceng yang telah lama hilang di telan ombak.




~ THANK ~ YOU ~

Posting Komentar

4 Komentar

  1. Serem banget emang kalo baca cerita-cerita seputar perlautan mas. Apalagi kalau yang ceritanya awak kapal, yang pastinya sudah berkali-kali merasakan dan menjalani momen horor di laut lepas sana.
    Saya mah gamauuuuu dan gak bisa naik kapal laut. Muntah mulu wwkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas. Misteri dilaut memang lebih seram ketimbang didarat. Resikonya bisa dua kali lipat.😁😁

      Hapus
  2. Kadang di tengah lautan hal-hal di luar akal sehat sering terjadi, mau diselidiki rasanya tak mungkin, lautan beda dengan daratan yang bisa dipetakan dan dijelajahi dengan tenang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa Huu betul... Misteri lautan serta kedalaman dibawahnya masih banyak yang belum bisa diungkap dari dulu sampai sekarang.😁😊

      Hapus