Malam itu, butik Lavender di sudut jalan kota Surabaya terasa lebih dingin, tak seperti biasanya. Andini, seorang desainer muda yang sedang naik daun, baru saja menerima sebuah paket anonim. Di dalamnya terdapat sebuah Gaun Malam Ungu berbahan beludru sutra yang tampak memancarkan cahaya redup, seolah-olah kain itu ditenun dari sisa-sisa senja.
Andini menyentuh permukaannya. Dingin. Bukan dingin kain biasa, melainkan dingin yang menusuk hingga ke tulang. Tidak ada kartu pengirim, hanya secarik kertas lusuh bertuliskan~
Andini menyentuh permukaannya. Dingin. Bukan dingin kain biasa, melainkan dingin yang menusuk hingga ke tulang. Tidak ada kartu pengirim, hanya secarik kertas lusuh bertuliskan~
"Mungkin ini hanya prank dari pesaingku"... Gumam Andini, meski hatinya berdegup kencang. Ia memutuskan untuk memajang gaun itu pada maneken di tengah ruangan.
Malam pertama berlalu dengan kegelisahan. Saat Andini datang ke butik keesokan paginya, ia menemukan posisi maneken itu berubah. Awalnya menghadap pintu, kini maneken itu menghadap ke cermin besar di sudut ruangan.
Anehnya lagi, tercium aroma bunga sedap malam yang sangat kuat, padahal Andini tidak pernah menaruh pengharum ruangan beraroma bunga.
Pukul 02.00 ~ Andini terbangun di apartemennya karena merasa ada yang menarik ujung selimutnya. Pukul 03.15, Andini kembali mendengar suara langkah kaki berirama high heels di atas lantai kayu butiknya melalui CCTV ponsel, namun layar hanya menunjukkan kegelapan total.
Keesokan malamnya setelah butiknya akan tutup, karena penasaran sekaligus takut, Andini membawa gaun itu ke meja kerjanya. Ia memeriksa detail jahitannya. Di balik lipatan furing bagian dalam, ia menemukan sesuatu yang membuatnya mual, seikat rambut manusia yang dijahit rapi mengikuti garis pinggang gaun tersebut.
Namun tiba-tiba tanpa sebab yang jelas, listrik dibutiknya padam.
Dalam remang cahaya bulan, Andini melihat bayangan di cermin. Bukan bayangannya sendiri, melainkan seorang wanita pucat dengan leher miring yang berdiri tepat di belakangnya. Wanita itu mengenakan gaun yang sama, namun warnanya bukan lagi ungu, melainkan merah pekat seperti darah kering.
"Kau menyukai warnanya, Andini? Warna ini butuh 'makan atau darah segar' setiap lima puluh tahun".. Bisik sebuah suara yang terdengar seperti gesekan amplas.
Fajar ketiga hampir tiba. Andini baru sadar bahwa "kembalikan ke asalnya" bukan berarti mengirim paket itu kembali, melainkan mengembalikan nyawa yang terperangkap di dalamnya.
Pagi harinya, warga sekitar geger. Butik Andini terkunci rapat dari dalam. Saat polisi mendobrak masuk, mereka hanya menemukan gaun malam ungu itu tergeletak di lantai. Warnanya kini jauh lebih cerah dan hidup, ungu yang sangat cantik hingga menyakitkan mata.
Andini tidak ada di sana. Namun, jika ada yang melihat lebih dekat ke arah maneken, mereka akan menyadari bahwa wajah maneken itu kini memiliki tahi lalat kecil di bawah mata kiri, persis seperti milik Andini, dan matanya tampak berkaca-kaca, seolah menyimpan ketakutan yang abadi.
Malam pertama berlalu dengan kegelisahan. Saat Andini datang ke butik keesokan paginya, ia menemukan posisi maneken itu berubah. Awalnya menghadap pintu, kini maneken itu menghadap ke cermin besar di sudut ruangan.
Anehnya lagi, tercium aroma bunga sedap malam yang sangat kuat, padahal Andini tidak pernah menaruh pengharum ruangan beraroma bunga.
Pukul 02.00 ~ Andini terbangun di apartemennya karena merasa ada yang menarik ujung selimutnya. Pukul 03.15, Andini kembali mendengar suara langkah kaki berirama high heels di atas lantai kayu butiknya melalui CCTV ponsel, namun layar hanya menunjukkan kegelapan total.
Keesokan malamnya setelah butiknya akan tutup, karena penasaran sekaligus takut, Andini membawa gaun itu ke meja kerjanya. Ia memeriksa detail jahitannya. Di balik lipatan furing bagian dalam, ia menemukan sesuatu yang membuatnya mual, seikat rambut manusia yang dijahit rapi mengikuti garis pinggang gaun tersebut.
Namun tiba-tiba tanpa sebab yang jelas, listrik dibutiknya padam.
Dalam remang cahaya bulan, Andini melihat bayangan di cermin. Bukan bayangannya sendiri, melainkan seorang wanita pucat dengan leher miring yang berdiri tepat di belakangnya. Wanita itu mengenakan gaun yang sama, namun warnanya bukan lagi ungu, melainkan merah pekat seperti darah kering.
"Kau menyukai warnanya, Andini? Warna ini butuh 'makan atau darah segar' setiap lima puluh tahun".. Bisik sebuah suara yang terdengar seperti gesekan amplas.
Fajar ketiga hampir tiba. Andini baru sadar bahwa "kembalikan ke asalnya" bukan berarti mengirim paket itu kembali, melainkan mengembalikan nyawa yang terperangkap di dalamnya.
Pagi harinya, warga sekitar geger. Butik Andini terkunci rapat dari dalam. Saat polisi mendobrak masuk, mereka hanya menemukan gaun malam ungu itu tergeletak di lantai. Warnanya kini jauh lebih cerah dan hidup, ungu yang sangat cantik hingga menyakitkan mata.
Andini tidak ada di sana. Namun, jika ada yang melihat lebih dekat ke arah maneken, mereka akan menyadari bahwa wajah maneken itu kini memiliki tahi lalat kecil di bawah mata kiri, persis seperti milik Andini, dan matanya tampak berkaca-kaca, seolah menyimpan ketakutan yang abadi.



2 Komentar
Serem banget mas. Jadi ini andininya ketari kmasuk ke dalem gaunnya ya?
BalasHapusAmpe tai lalatnya kebawa-bawa, hehehe
Iyaa betul mas..Gaun penyedot sukma.😁😁
Hapus